Bantah Terlibat, Edo Tupessy Menangis

KOMPAS.com/ Fabian Januarius KuwadoSuasana pasca bentrokan di dalam Rumah Duka RSPAD, Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2012)

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Edo Tupessy tampak tak lagi garang ketika tubuhnya ditutupi baju oranye bertuliskan “Tahanan Polres Metro Jakarta”. Padahal, di wilayahnya di Kampung Ambon, Jakarta Barat, nama pria setengah baya yang memiliki tato di sekujur tubuhnya ini dikenal sebagai penguasa kawasan merah peredaran narkoba itu.

Saat jumpa pers di Mapolrestro Jakarta Pusat, Minggu (4/3/2012) malam, Edo bahkan sempat terisak di hadapan seorang penyidik perempuan yang mendengarkan pembelaannya. “Bu, saya ini enggak tahu apa-apa. Saya sudah tua, saya ingin tenang. Kalau begini, saya malu sama anak-anak. Ibadah saya rajin, saya doa tiap malam. Saya percaya ajal ada di tangan Tuhan,” ungkap Edo setengah terisak.

Kedua tangannya yang tak terborgol menutupi mukanya. Penyidik perempuan itu lalu menenangkan Edo. Edo tak bisa diam dan terus menyerocos bicara. Padahal, saat itu jumpa pers baru saja dimulai untuk mengekspos kasus penyerangan di rumah duka RSPAD Gatot Subroto. Edo diduga menjadi otak penyerangan itu.

Edo seolah tak peduli dengan jumpa pers ini. Dia terus saja bercerita. Dia mengatakan bahwa beberapa saat sebelum penyerangan terjadi pada Kamisa (23/2/2012) dini hari, ia datang ke rumah duka untuk melayat Bob, kerabat dari Edi yang disebut-sebut menjadi target penyerangan sadis itu.

“Saya tidak tahu itu hanya tuduhan saja. Masa dengan kata sapaan kurang ajar ke Edi karena dia enggak nyapa saya terus saya dibilang otak pelaku. Ini adik-adik saya semua yang datang saat itu,” papar Edo.

Menurutnya, mereka menyerang karena dendam saja. Tetapi, Edo tak menjelaskan rinci dendam apa yang dimaksud. Ia hanya menambahkan pembelaan dirinya. “Ngapain saya bikin perang. Saya cinta damai,” tuturnya.

Kendati demikian polisi berkata lain. Kepala Polres Metro Jakarta Pusat, Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol, mengatakan Edo mendapatkan pesanan untuk melakukan penyerangan itu dari Mr. Y, narapidana di LP Salemba. Disebut-sebut Mr. Y juga mendapatkan pesanan penyerangan itu dari Mr. X, seorang mafia narkoba besar yang masih diburu aparat. Penyerangan itu dilakukan lantaran Edi yang ada di rumah duka tidak melunasi utang transaksi narkoba senilai Rp 280 juta kepada Mr. X.

“Edo dijanjikan persenen kalau berhasil menarik utang itu,” imbuh Yoyol.

Edo disebut menggerakkan karena atas instruksi dialah para pemuda ini menyerbu rumah duka. Dua orang tewas dan enam orang lainnya terluka dalam peristiwa itu. Akhirnya, Edo ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan sembilan orang lainnya yakni Gheretes Tamatala alias Heri, Tony Poceratu alias Ongen, Rent Penturi, Abraham Tuhehai, Yongky Maslebu, Rely Petirulan, Onchu, Renny Tupessy, dan R. Sedangkan, tiga orang lainnya masih diburu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s